Jumat, 09 November 2012

Peninggalan kerajaan melayu deli



               ISTANA MAIMUN

Istana maimun merupakan salah satu bangunan peninggalan kerajaan melayu deli. Istana maimun berlokasi di kelurahan aur,kecamatan medan baru,kotamadya medan,kira-kira 3 km dari Bandara polonia dan 28 km dari pelabuhan belawan. Bangunan ini terdiri di atas sebidang tanah berukuran 2I7x200 m,dikelilingi pagar besi setinggi I m dan menghadap ke timur. Di sebelah baratnya mengalir sungai deli,sedangkan di sebelah selatannya terdapat bengunan pertokoan dan pemukiman. Di sebelah utaranya dibatasi oleh jalan tanjung meriam,sedangkan di depannya adalah jalan brigjen katamso.
Istana maimun didirikan pada tahun I888,didirikan pada masa kesultanan sultan ma’mun al rasyid perkasa alamsyah. Istana ini didesain dengan meniru gaya tradisional istana-istana melayu,pola india islam (mugal) dan eropa.Selain mendirikan istana maimun,sultan juga mendirikan masjid raya al mashun pada tahun I907,dan sebuah kantor kerapatan yang berfungsi sebagai mahkamah keadilan bagi pemerintahan sultan ma’mun al rasyid alamsyah pada tahun I906.
Sebagaiman lazimnya bangunan istana kerajaan  islam pada zaman dahulu yang selalu dikaitkan dengan masjid,kira-kira I00 m di depan istana maimun terdapat bangunan masjid raya al mashun yang berfungsi sebagai masjid kerajaan.
Luas istana maimun 2772 dan menurut denahnya dapat dibagi menjadi 3 bagian,yakni bangunan induk,sayap kiri,dan sayap kanan.
Bangunan induk mempunyai penampil pada bagian depan dan belakang.  Panjang bangunan 75.30 m dan tingginya I4,40 m. Bangunan ini bertingkat dua yang ditopang sekelilingnya oleh 82 buah tiang batu dan 43 buah tiang kayu dengan lengkungan-lengkungan yang berbentuk lunas perahu terbalik dan ladam kuda. Atapnya berbentuk limas an dan kubah,sedang dari segi bahannya adalah atap sirap dan tembaga. Atap limasan terdapat pada bangunan induk,sayap kiri dan kanan. Sedangkan atap kubah sebanyak tiga buah terdapat pada penampil depan.
Dilihat dari sudut arsitektur secara keseluruhan bentuk atap adalah bertupang dua. Melalui koridor bertangga dari batu pualam kita dapat naik ke tingkat dua bangunan induk yang berteras di kiri dan kanannya yang disebut anjungan. Dan melalui gerbang dengan pintu dorong ala eropa kita sampai pada sebuah ruangan yang berfungsi sebagai ruang tamu. Di kiri kanan ruang tamu ada sebuah bilik (kamar),kedua kamar ini dahulu merupakan kamar kerja bagi para penjawat dan para dayang. Melalui gerbang dengan lengkungan yang berbentuk lunas perahu terbalik yang penuh dengan ukuiran motif-motif floralistis dan geometris kita memasuki ruangan induk pada bangunan indu.k seluas 4I2 M2 yang dahulu berfungsi sebagai balairung.Ruangan ini dipakai  sebagai tempat upacara penobatan raja dan upacara adat lainnya.
Di sisi kiri ruangan ini terdapat singgasana sultan yang berwarna-warni,bentuknya segi empat lengkap dengan kubah dan lengkungan-lengkungan runcing pada ketiga sisinya,balairung diterangi lampu-lampu Kristal buatan eropa,pada dinding ruangan terdapat hiasan dari cat minyak motif floralistis dan geometris ada yang distilir dan naturalistis. Pintu balairung berukuran tinggi dan lebar dan daun pintu terdiri dari dua lapis yaitu bagian luar dan dalam. Bagian luar pintu terbuat dari kayu,bagian dalamnya  terdiri dari kayu dan kaca. Pada bidang-bidang segi empat daun pintu bagian dalam terdapat hiasan bunga yang sedang tumbuh dari sebuah vas yang dilukis secara naturalistis. Di samping itu di dalam ruangan terdapat beberapa set kursi buatan eropa.
Pada plafonnya terdapat pula motif hiasan yang sama ditempatkan pada bidang-bidang segi empat dan segi delapan. Di samping itu pada dinding ruangan tergantung figura dan lukisan serta foto-foto sultan deli terdahulu. Yang menarik ialah pada sudut atas bingkai cermin yang berwarna kuning emas itu terdaat hiasan floralistis yang distilir sedemikian rupa. Di atas figura cermin terdapat ventilasi berbentuk bulat berterali besi dimana menempel setangkai bunga dari kuningan.
Melalui sebuah gang beratap dengan lengkungan-lengkungan lunas perahu terbalik yang kaya dengan hiasan-hiasan floralistis dan geometris. Kita sampai pada sebuah ruangan yang berada di penampil belakang. Luas ruangan ini 94 M2 dulu dipergunakan sebagai tempat upacara pernikahan dan ruang makan. Diantara balairung dan ruang makan terdapat 2 kamar kecil di sebelah kiri dan kanan sebagai kamar para dayang. Di dalam ruangan ini kita jumpai dua buah kursi (tahta sultan) dan dua buah almari serta dua buah meja toilet yang seluruhnya buatan eropa..
Istana maimun ini di bagian atasnya mempunyai I2 ruangan,2 ruangan yang besar untuk upacara kerajaan dan 10 ruangan yang lebih kecil untuk kelengkapannya. Sedangkan sebelah bawahnya ada 10 ruangan termasuk kamar mandi ,dapur,kantor sultan,penjara sementara dan tempat pemyimpanan barang.
Di sisi kanan,di depan istana berdiri sebuah bangunan atau rumah adat karo,dimana di dalamnya ditempatkan sebuah meriam yang sudah puntung. Kira-kira 10 m di depan istana ada semacam altar atau panggung yang dahulunya bangunan itu adalah pondasi atau landasan dari dua buah patung kuda yang berfungsi sebagai pancuran.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar